Rabu, 30 Januari 2013

MELURUSKAN SEJARAH BANGGAI


Oleh : Fatharany Berkah Abdul Barry
(Pemerhati Sejarah Banggai)


Tema diatas sengaja penulis ambil menjadi judul dalam tulisan ini sebagai simbolisasi pesan dan nilai yang terkandung dan coba akan penulis uraikan secara lugas dalam catatan ini. Mengingat dalam perjalannya, sejarah Banggai telah mengalami penyesatan akan kebenarannya, baik penyesatan yang dilakukan oleh mereka yang mengaku sesepuh dan tokoh adat Banggai maupun penyesatan yang dilakukan oleh sejumlah sejarawan lokal dalam penyusunan buku sejarah Banggai yang kemudian dijadikan referensi antar generasi dalam mempelajari sejarah Banggai. Penyampaian pesan sejarah yang kurang mendalam dan cenderung tidak transparan akhirnya menjadikan pengetahuan generasi Babasal akan sejarahnya sendiri hanya secara parsial. Bicara soal sejarah Banggai tentunya kita tidak akan luput bicara sol kerajaan Banggai. Dalam tulisan ini penulis coba mengklasifikasikan sejarah Banggai dalam dua periode, dimana periode pertama adalah periode doeloe yaitu BATOMUNDOAN BANGGAI (Kerajaan Banggai) yang meliputi fase kerajaan Banggai klasik dan fase kerajaan Banggai moderen. Sedangkan periode kedua adalah periode kekinian yakni BATOMUNDOAN ADAT BANGGAI (Kerajaan Adat Banggai).

Pemisahan periode dengan menggunakan terminologi Batomundoan Banggai dan Batomundoan Adat Banggai peting kiranya guna memperjelas status dan ruang Batomundoan Banggai yang merupakan masa kerajaan Banggai sejati dan Batomundoan Adat Banggai yang merupakan masa Kerajaan Adat Banggai atau kerajaan Banggai replika yang eksis saat ini. Perbedaannya bukan hanya pada status. ruang dan waktunya yang berbeda, tetapi pada fungsi dan peran sang pemegang kepemimpinan. Dimana pada era Batomundoan Banggai doeloe, Tomundo merupakan pemimpin pemerintahan (kerajaan) yang menjalankan fungsi penyelenggaraan pemerintahan (eksekutif), sedangkan Basalo Sangkap sebagai dewan pertimbangan dalam penyelenggaraan pemerintahan (legislatif). Sedangkan era  Batomundoan Adat Banggai saat ini, Tomundo hanya merupakan pemimpin masyarakat adat yang menjalankan fungsi pelestarian budaya peninggalan era Batomundoan Banggai tempo dulu.    

1.    Periode Batomundoan Banggai (Kerajaan Banggai)

Bila kita mengurai sejarah peradaban Batomundoan Banggai atau Kerajaan Banggai, maka kita akan bicara tentang dua fase peradaban Kerajaan Banggai yaitu fase Kerajaan Banggai klasik dan fase Kerajaan Banggai moderen. Dimana fase peradaban Kerajaan Banggai klasik diawali dari sebuah legenda kuno tentang suatu banjir besar yang rumit untuk diuraikan dengan kalimat dan dicerna dengan logika ilmiah. Tetapi intinya bahwa kerajaan Banggai klasik telah ada dan dikenal sekitar abad ke 13 masehi dengan nama Benggawi, diera kejayaan Kerajaan Mojopahit dibawah pimpinan Prabu Hayam Wuruk (1351-1389) dimana kerajaan Banggai saat itu telah menjadi bagian dari kerajaan Mojopahit, sebagaimana disebut pada seuntai syair dalam buku Nagara kertama karya Mpu Prapanca. Dalam struktur Kerajaan Banggai klasik menurut Dr.Alb.C.Kruyt dalam studinya De Vorsten van Banggai, kerajaan Banggai kala itu dipimpin oleh seorang raja yang bergelar ADI yang tinggal di Linggabutun yang terletak digunung Bolukan (sekarang Padang Laya) dan empat orang yang merupakan suatu dewan penasehat bagi ADI dan diberi gelar TOMUNDO SANGKAP yang masing-masing mempunyai kekuasaan tertentu yaitu Olu/Babolau, Lombongan/Katapean, Singgolok dan Kokini, sehingga orang bicara Tomundo dari Olu/Babolau, Lombongan/Katapean, Singgolok dan Kokini. Mereka inilah sejatinya pendiri Kerajaan Banggai. Secara berturut-turut disebut empat orang Adi yang memerintah sebelum seorang Adi Lambal Polambal memerintah. Adi Lambal Polambal menjadi raja terakhir fase Kerajaan Banggai klasik, selama ia memerintah sering terjadi perselisihan antar saudara diantara empat raja kecil (tomundo Sangkap) yang merupakan dewan penasehat bagi Adi, yang sukar untuk didamaikan oleh Adi Lambal Polambal.

Pada masa pemerintahan Adi Lambal Polambal inilah muncul seorang bangsawan dari tanah Jawa yang merupakan panglima perang Sultan Baabullah dari Kerajaan Ternate bernama Adi Cokro alias Adi Soko. Adi Cokro kemudian hadir sebagai sosok pembawa kedamaian atas gejolak internal Kerajaan Banggai, sehingga karena kebijaksanaannya, Adi Lambal dan keempat tomundo tersebut menawarkan pemerintahan kepadanya. Karena identitasnya sebagai sebagai seorang panglima perang Kesultanan Ternate inilah yang kemudian melegitimasi  kerajaan Banggai sebagai bagian dari taklukan Kesultanan Ternate, meskipun Adi Cokro hadir tidak dengan cara konfrontasi militer melainkan menjalankan misi penyebaran agama islam. Adi Cokro kemudian naik tahta menjadi raja Banggai dengan gelar MBUMBU, sejak itulah gelar adi menghilang digantikan dengan mbumbu yang kemudian dikombinasikan dengan tempat mereka meninggal dan dikuburkan seperti Adi Cokro mbumbu doi Jawa yaitu raja yang meninggal di Jawa dan Mbulang mbumbu doi Balantak, yaitu raja yang meninggal di Balantak dll.

Masa Adi Cokro memimpin disinalah menjadi fase awal peradaban Kerajaan Banggai moderen, ia kemudian dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai moderen  setelah beliau sukses memperluas wilayah Kerajaan Banggai (klasik) yang sebelumnya hanya meliputi wilayah Pulau Banggai saja menjadi kerajaan utama (primus inter pares) dari beberapa kerajaan yang ada dengan menundukan kerajaan – kerajaan di Pulau Peling seperti Kerajaan Tokolong (Buko), Lipu Babasal (Bulagi), Sisipan, Liputomundo, Kadupang dan Kerajaan Bongganan, hingga sampai ke jazirah timur daratan Sulawesi dengan menaklukan Kerajaan Tompotika, Bola, Lowa, dan Kerajaan Gori-gori yang kemudian disebut wilayah Banggai darat (sekarang Kab.Banggai). Ia kemudian mengatur pemerintahan atas daerah-daerah kekuasaannya serta membawa masuk agama islam diseluruh wilayah kekuasaan kerajaan Banggai. Pulau Banggai tetap dijadikan pusat pemerintahannya, sementara itu Adi yang terakhir yaitu Adi Lambal Polambal diangkat kembali sebagai pelaksana pemerintahannya dengan memberi kepadanya jabatan JOGUGU, sedangkan dewan penasehat, yaitu keempat raja (tomundo) kecil juga mendapat gelar kehormatan PAU BASAL / BASALO yang lebih rendah dari tomundo dan memberi mereka nama-nama baru seperti Olu menjadi Doduung, Kokini menjadi Tanobonunungan, Singgolok menjadi Monsongan, dan Lombongan menjadi Gonggong. Sehingga bekas tomundo Olu menjadi Pau Basal Doduung dst.

Sebutan Pau Basal yang dalam bahasa berarti “anak besar” dianggap sebagai satu gelar kehormatan, karena membentuk suatu hubungan antara bapak-anak antara Mbumbu dengan keempat Pau Basal itu, daerah kekuasaan mereka ditentukan kembali dari gunung Bolukan dimana sang raja membangun sebuah istana untuk salah seorang istrinya. Tetapi dalam pembagian daerah itu diatur sedemikian rupa sama seperti para bapak leluhurnya, yakni para Tomundo. Keempat Pau Basal sangat dihormati oleh Mbumbu dan para penerusnya, mereka merupakan suatu dewan penasehat, yang pengaruhnya sama luasnya dengan kekuasaan Mbumbu.

Selain itu Adi Cokro juga meletakan suatu struktur tata pemerintahan yang demokratis, yang terdiri dari Eksekutif dan Legislatif. Dimana raja sebagai pucuk pimpinanan kekuasaan kerajaan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh empat orang staff eksekutif atau dewan menteri yang dikenal dengan sebutan KOMISI SANGKAP yang terdiri dari : (1). Mayor Ngopa atau Raja Muda; (2). Kapitan Laut atau Kepala Angkatan Perang; (3), Jogugu atau Menteri Dalam Negeri; (4). Hakim Tua atau Pengadilan. Komisi empat ini ditunjuk dan diangkat oleh raja yang sedang bertahta. Sedangkan sebagai Badan Legislatif atau Dewan Penasehat adalah empat Pau Basal yang sekarang disebut BASALO SANGKAP yaitu (1).Basalo Babolau (Doduung); (2). Basalo Kokini (Tanobonunungan); (3). Basalo Singgolok (Monsongan); (4). Basalo Katapean (Gonggong). Dewan penasihat atau Badan Legislatif Dewan Basalo Sangkap  di ketuai oleh Basalo Babolau yang bertugas melakukan pemilihan setiap bangsawan untuk menjadi raja. Begitu pula untuk melantik seorang raja, dilakukan di hadapan Basalo Sangkap. Basalo Sangkap yang akan melantik raja, lalu meriwayatkan secara teratur sejarah raja-raja Banggai secara berurut, kemudian disebutkan calon raja yang akan dilantik, yang kepadanya dipakaikan mahkota kerajaan sebagai simbol bahwa yang bersangkutan resmi menjadi raja pemimpin kerajaan Banggai. Keempat Basalo ini sangat dihormati oleh mbumbu dan para penerusnya, mereka merupakan suatu dewan penasehat yang pengaruhnya sama luasnya dengan kekuasaan Mbumbu.

Karena suatu hal, Adi Cokro kembali ke tanah Jawa, akibatnya kerajaan Banggai mulai mengalami kekacauan dan kevakuman pemerintahan yang cukup panjang. Dalam desertase Banggaische Adatrecht oleh Dr.JJ.Dormeier disebutkan bahwa pasca  Adi Cokro, ada delapan orang Mbumbu berturut-turut yang memerintah Kerajaan Banggai. Tiga diantaranya tercatat sebagai Mbumbu dinaadat atau raja yang dibunuh. Krisis panjang ini baru berarkhir setelah putera Adi Cokro Maulana Prins Mandapar memerintah. Setelah ayahnya, Mandapar kemudian dianggap sebagai Raja Banggai pertama dan yang terbesar, ia kembali menegakkan kekuasaannya diseluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Banggai, mulai dari Pulau Sonit sampai ke Balingara dan dari Rata sampai ke Teluk Tomini serta mendirikan suatu pemerintahan pusat di Banggai.

Sejak dari Raja Mandapar silsilah raja-raja Banggai telah teratur sebagai berikut : 1. Maulana Prins Mandapar Mbumbu doi Godong (1600-1630); 2. Molen Mbumbu doi Kintom  (1630-1648); 3. Paudagar Mbumbu doi Benteng (1648-1689), 4. Mbulang Mbumbu doi Balantak (1689-1705); 5. Abdul Gani Mbumbu doi Kota (1705-1728); 6. Abu Kasim Mbumbu doi Bacan (1728-1753); 7.Kabudo Mbumbu doi Mendono (1753-1768); 8. Ansyara Mbumbu doi Padongko (1768-1773); 9. Manduis Mbumbu doi Dinaadat (1773-1809); 10. Agama Mbumbu doi Bugis (1809-1821); 11. Atondeng Mbumbu doi Galela (1821-1827); 12. Lauta Mbumbu doi Tenebak (1827-1847); 13. Taja Mbumbu doi Sau (1847-1852); 14. Tatu Tanga Mbumbu doi Jere (1852-1858); 15. Soak Mbumbu doi Banggai (1858-1870); 16. Nurdin Mbumbu doi Labasuma (1870-1882); 17. Tomundo Hi. Abdul azis (1882-1900); 18. Tomundo Hi. Abdul Rahman (1901-1922); 19. Tomundo Hi.Awaludin (1925-1940); 20). Tomundo Nurdin Daud (1940-1959). Inilah deretan raja Banggai yang sah dan legal secara kontitusional dalam episode perjalanan sejarah Batomundoan Banggai.

Adapun mengenai status dan posisi Syukuran Aminudin Amir dalam sejarah Kerajaan Banggai bukanlah Tomundo yang terlegitimasi secara utuh dan sah oleh tata aturan hukum formil kerajaan Banggai, melainkan hanya sekedar sebagai Pelaksana tugas harian Tomundo Banggai tatkala Tomundo Banggai Nurdin Daud yang yang baru berusia 12 tahun dikukuhkan oleh Basalo Sangkap pada tahun 1939 pasca mangkatnya Tomundo Awaludin sebagai tomundo Banggai ke 19. Namun karena mengingat usia raja Nurdin Daud yang terlalu belia untuk melaksanakan tugas kerajaan maka ditunjuklah S.A.Amir yang saat itu menjabat sebagai Mayor Ngofa sebagai pelaksana tugas (Plt). Namun kemudian amanat itu dibajak dengan mengukuhkan diri sebagai Tomundo yang legal meskipun tanpa restu dan tidak melalui pengukuhan oleh Basalo Sangkap sebagaimana ketentuan konstitusi kerajaan Banggai.

Belum cukup sampai disitu pada tahun 1941 rekayasa sejarah Kerajaan Banggai  itupun dimulai, setelah mengukuhkan dirinya sebagai Tomundo. Mengingat posisinya di dalam keraton kerajaan Banggai di Banggai yang tanpa legitimasi konstitusional sehingga tidak mendapat pengakuan dari Dewan Basalo Sangkap kala itu, maka atas dukungan kerjasamanya dengan Belanda yang berada di Luwuk S.A. Amir  kemudian dengan berani memindahkan ibu kota kerajaan Banggai ke Luwuk meskipun tanpa izin dan restu dari raja muda Nurdin Daud dan Dewan Penasehat Basalo Sangkap. Ia kemudian menyebut dan menamakan suatu tempat yang berlokasi didalam kota Luwuk dengan nama Keraton. Rekayasa ini seakan-akan bahwa kerajaan Banggai benar-benar telah mempunyai bangunan keraton sendiri di kota Luwuk sebagai pusat pemerintahan kerajaan Banggai yang baru.
Akhir periode Batomundoan Banggai atau Kerajaan Banggai adalah ketika terjadi peralihan status wilayah Banggai dari sistem swapraja Banggai menjadi daerah tingkat II (Dati II) Banggai. 

2.    Periode Batomundoan Adat Banggai (Kerajaan Adat Banggai)

Ada pihak yang kemudian memandang miris upaya pelestarian budaya dan adat  Banggai yang menggunakan simbol dan icon seperti layaknya era Batomundoan Banggai, dengan argumentasi Banggai saat ini bukan lagi merupakan bagian dari sistem pemerintahan monarki  yang otonom seperti dulu, tetapi Banggai merupakan bagian dari sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga penggunaan simbol-simbol kerajaan dipandang hanyalah merupakan reaktualisasi image kelompok bangsawan untuk kepentingan pencitraan pribadi dan keluarganya guna mendapatkan kembali pengakuan dan penghargaan publik semata sebagai orang ningrat, dengan segala kepentingan yang disisipkan dibalik citra sebagai kaum feodalis itu. terlepas benar atau tidaknya argumentasi minor tersebut, namun yang pasti sejarah memeliki posisi penting dalam perjalanan peradaban suatu bangsa. Itulah sebabnya sehingga sang pendiri republik ini, Soekarno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, olehnya itu jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah).

Inilah pesan keramat yang kini dimanifestasikan oleh masyarakat adat Banggai dalam wujud Batomundoan adat Banggai yang ditandai dengan masuknya Batomundoan adat Banggai dalam Forum Silaturahmi Keraton se Nusantara (FSKN sebagai anggota ke 118. Dimana keberadaan Batomundoan Banggai hanyalah merupakan upaya konkrit untuk melestarikan budaya Banggai pada khususnya dan nusantara pada umumnya.  Sehingga kurang tepatlah kiranya jika sekarang dalam menyebut langkah pelestarian budaya ini dengan menggunakan istilah Batomundoan Banggai (kerajaan Banggai), tetapi yang tepat adalah Batomundoan Adat Banggai (Kerajaan Adat Banggai) karena era sekarang bukanlah era masa lampau, melainkan hanya era yang mereflesikan kearifan masa lampau demi tujuan pelestarian adat dan budaya banggai itu sendiri. tetapi dengan cara penggunaan mekanisme dan atribut-atribut budaya dan adat masa lampau. Inilah yang sekarang sebagai simbol sejati adat Babasal. Dimana yang dinobatkan sebagai Tomundo Banggai dan merupakan simbol dan pemimpin adat banggai adalah tomundo yang dikukuhkan sesuai tatacara pengukuhan raja-raja banggai sebelumnya. Seperti pengukuhan tomundo Iskandar Awaludin Zaman sebagai pengganti Raja Banggai sejati (era kerajaan) Nurdin Daud. Kemudian ia diagantikan oleh puteranya Moh.Fikran Zaman sebagai simbol dan pemimpin adat Babasal yang ke 22. Namun karena masih muda dan sedang menuntut ilmu maka ditunjuklah Irwan Zaman sebagai Tomundo Batomundoan adat Banggai yang legal. Olehnya itu dapat disimpulkan bahwa Tomundo sebagai pemimpin dan simbol adat yang sah dan legal sesuai dengan mekanisme keadatan adalah Moh.Fikran zaman/Plt Irwan Zaman bukan Moh.Chair Amir atau Hideo Amir. Sama seperti Raja Banggai terakhir bukan Syukuran Aminudin Amir melainkan Nurdin Daud.*

NB: Catatan ini pernah di publikasikasikan pada media massa local (Majalah Pelita) medio Maret 2012.

54 komentar:

  1. ini dia, saya cuma menambahkan sedikit mengenai adi cokro. sebenarnya nama adi saka itu bukan dari nama adi cokro tpi memang namanya ialah adi saka, sebab klu ada yg katakan adi cokro berubah menjadi adi saka karna dialek banggai maka itu bisa dikatakan salah. cokro berubah kedalam dialek banggai seharusnya soklo, karna dalam dialek banggai kurang terdapat huruf R dan jika ada akan diserap menjadi huruf L, ini banyak terjadi di daerah bulagi, adi saka itu sendiri merupakan gelar yaitu Adi pengertiannya ialah unggul atau besar sedang saka ialah dahan diambil dari pengertian bahasa sansekerta, dan saka sendiri berkaitan dengan tiang atau tonggak maka jika digabungkan akan memiliki arti dahan atau tiang unggul atau tiang besar .. dan kalau dalam sejarah yg beredar di daerah bulagi adi saka mempunyai 2 orang putra yg kakak bernama Pu Adi meninggal 67 Hijria sedang adiknya yg memimpin kerajaan banggai namanya belum diketahui, adiknya menjadi pemimpin setelah kembali dari jawa, maka jika dimasehikan 67 H brati sekitar 600 M bukan 1600 M. situs kuburan ada di desa lolantang bulagi selatan.. selanjutnya kita bisa diskusikan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. APAAAAA......????
      600 Masehi...???
      Ckckckckckckck...!!!
      Hebat bener Mas Brow...!!!
      Literaturnya dapat dari mana Mas Bro...!!
      Nabi Muhammad saja lahirnya 571 Masehi,,,
      Beliau pertama kali menerima wahyu pertama kali di Goa Hira ketika umurnya 40 Tahun atau Tahun 611 Masehi..
      Berdakwah 3 Tahun secara diam - diam kemudian 10 tahun secara terang - terangan di di Kota Makkah selanjutnya sampai hijrah ke Madinah..
      Kalau dibilangnya Islam sudah ada Tahun 600 Masehi di Bulagi sudah masuk Islam sangat konyol sekali,, karena itu artinya saat itu umur Nabi Muhammad baru 29 Tahun,, dan itu berarti Nabi Muhammad pun belum diangkat menjadi Rasul..!!!
      Apalagi kalau dikatakan Tahun 600 Masehi itu tahun meninggalnya,, wah.... wah... wah....!!!
      Banyak baca buku lagi mas bro...!!!

      Hapus
    2. Kalau ingin tahu tentang siapa sebenarnya Adi Cokro dan kenapa adi saka/soko coba baca buku Moh. Yamin “Gajah Mada” ( 1985 )

      Hapus
    3. mantap.. mas brow.. coba kawan analisis perkataan saya, di atas saya katakan sekitar 600 M tidak memastikan 600 M secara pas, untuk literaturnya silakan buka fb saya yaitu jalil mangalia di situ ada foto relief di samping kubur puadi, atau lebih dikenal lipuadimo dia meninggal 67 H dengan menggunakan tulisan arab melayu. jadi, jika di tambahkan 571 kelahiran nabi tamba pengangkatan 40 thn tamba hijrahnya ke madina 10 tahun setelah jdi nabi, dan tambah 67 H meninggalnya pu adi maka sekitar 688 M atau akhir aba VI M puadi meninggal dunia.. dan di bawahnya ada lagi ada kubur imam sa'ban yg meninggal 168 H namun untuk imam sa'ban masi kurang referensi tntang datangnya beliau ke banggai..
      kalu anda kurang yakin silakan datang sendiri ke bulagi selatan desa lolantang dan saksikan sendiri kuburannya, karna saya sendiri suda menyaksikannya.. OK.. mas brow..

      Hapus
    4. Okeh anggaplah anda benar...
      Nah,, jadi patokannya Islam masuk ke Bulagi adalah makam tersebut,, gitu ya..??
      Karena pada makam tersebut ada tulisan arabnya..??

      Hapus
    5. untuk sementara seperti itu karna hanya itu mungkin satu2nya situs kita, mengenai masuknya islam di banggai yg sesuai dengan sejarah tutur yg berkembang daerah bulagi.

      Hapus
  2. berarti sudah benar kalau si cokro itu yang menginvasi kerajaan - kerajaan merdeka di jazirah timur sulawesi ( penjajah )

    BalasHapus
  3. Ini Pernah di Ceritakan Oleh Orang tua saya Dulu. Walaupun Telat , Kebenaran harus di Ungkapkan. Tidak ada kata terlambat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Sekali Mas Bro...!!!!
      Kebenaran harus di ungkapkan,,
      Walaupun Pahit..!!!

      Hapus
  4. dari yg saya ketahui Adi saka bukan penjajah dia penyebar agama islam, dan kerajaan banggai dari yg saya pelajari tidak melakukan penjajahan karna kerajaan banggai ialah salah satu kerajaan penyebar agama islam yg dilakukan tidak dgn kekerasan, kemungkinan banggai melakukan penjajahan setelah berada di bawah jajahan ternate sebab ternate ingin melakukan ekspansi ke daratan sulawesi sehingga secara otomatis banggai ikut serta di dalamnya. sebab saya juga sempat berdiskusi degn seorang tokoh adat batui, dia mengatakan bahwa di batui sendiri sudah ada sistem pemerintahan model islam sejak abad ke VII pendirinya yaitu murit dari Pu Adi sendiri dan dia asli penduduk batui..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. untuk sejarah mengenai adi saka yg telah islam di abad ke VI ini saya mngkritikinya karna ada sejarah tutur lain mengatakan diapun sepertinya belum islam, sebaba dari sejarah tutur yg lain mengatakan bahwa yg menyebarkan islam di tanah banggai pertama yaitu MIAN TU sekitar pertengahan abad ke VI dan dia mengislamkan basalo salaup bulagi, mertua dari PUADI dan dari situlah PUADI masuk islam..
      InsaAllah nanti saya bisa mengabdikan diri untuk beberapa waktu guna mengumpulkan data sejarah tutur mengenai sejarah banggai..

      Hapus
  5. Saya maklum dengan pendapat anda,, anda dapat mengatakan seperti itu mungkin karena literatur yang anda miliki kurang cukup…
    berikut akan coba kami berikan beberapa literatur…
    Coba anda baca sejarah Kerajaan Banggai keluaran Batumundo’an Banggai…
    Disitu dikatakan sebelumnya Kerajaan Banggai hanya terdiri dari empat buah Kerajaan yang memiliki Wilayah dan berdaulat atas wilayahnya. Empat Kerajaan dimaksud adalah Babolau berkedudukan di Babolau ± 5 km dari Desa Tolise Tubono, Kokini berkedudukan di Desa lambako, Katapean berkedudukan di desa Sasaban ± 5 km dari Desa Monsongan dan Singgolok berkedudukan di Bungkuko. Keempat Kerajaan tersebut hidup dalam suasana saling mencurigai bahkan cenderung bermusuhan sehingga sering terjadi peperangan antara keempat Kerajaan tersebut ini, masing -masing mempertahankan kedaulatannya dan tidak ada yang mengalah. Dalam suasa bermusuhan ini datang seorang Pangeran yang bernama ADI COKRO (Mumbu doi Jawa ). Ia kemudian menyatukan keempat kerajaan ini dan memperluas wilayahnya sampai ke wilayah timur Sulawesi ( Tompotika, Matindok-Lowa-Bola )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah siapa Adi Cokro…???
      Moh. Yamin dalam bukunya “Gajah Mada” ( 1985 ) menyebutkan :
      Adi Cokro ( Adi Soko ), adalah bangsawan kerajaan Demak ( Jawa Tengah ) keponakan Dipati Yunus ( 1525 ), dengan nama aslinya “ Raden Cokro “, pernah bersama – sama pamannya Dipati Yunus menyerang Pati Udara Madjapahit.
      Pamannya Dipati Unus mengirim Raden Cokro ke Ternate untuk membantu Sultan ternate mengembangkan Islam serta memperkuat pasukan armada Ternate dari serangan Portugis (1530 ).
      Adapun hal ini dilakukan Dipati Yunus sebab Sultan Ternate meminta bantuan Ratu Kalinyanget Demak, seorang panglima perang dengan alasan untuk menjaga serangan musuh dari Portugis, VOC serta mengembangkan ajaran Islam di wilayah Kesultanan Ternate. Permintaan itu disahuti Ratu Kalinyaget dan mengirim Panglima Perangnya bernama Raden Cokro. Namun setibanya di Ternate, Sultan Baab Bullah, mengajak Raden Cokro justru untuk memperluas wilayah Kesultanan Ternate, maka dimulailah rencana penyerangan ke Banggai dan sekitarnya berikut Tompotikka dan Matindok – Lowa – Bola.
      Nah loo….

      Hapus
    2. Kemudian lihat lagi Banggaishe Adatrecht ( 1947 ) hal 23 by J.J. Dormier, Pemimpin terakhir Tompotikka Raja Lalogani, gugur dalam pertempuran di Tompotikka melawan pasukan gabungan Ternate (Tobelo), Banggai, Gorontalo dan Limboto.
      Albert C. Kruyt dalam bukunya De vorsten Van Banggai ( 1931 ) hal 518 mengatakan bahwa Mumbu Doi Jawa ( Adi Cokro ) menata pemerintahan atas taklukkannya Pulau Banggai, Peling dan Daratan Timur Sulawesi. Maka lenyaplah kerajaan – kerajaan otonom yang ada di Pulau Peling juga kerajaan – kerajaan yang ada di Timur Sulawesi, yang ada hingga kini adalah Kerajaan Banggai.
      Francois Valentijn ( 1880 ) hal 80 dalam bukunya “ Oud en Nieuw Oost Indien “, menjelaskan bagaimana Sultan Babu ( Sultan Baab Bullah = Sultan Ternate ) menguasai Pulau Banggai dan menjadikannya basis dalam invasinya ke wilayah Timur Sulawesi.
      Maka tidak heran apabila kemudian sejak saat itu Kerajaan Banggai menjadi besar bahkan wilayahnya sampai ke tanjunga api dan togong teong.
      Dan jelas dari beberapa sumber di atas tidak diragukan lagi bahwa Kerajaan Banggai di bawah perintah Kesultanan Ternate memang telah menginvasi kerajaan – kerajaan yang ada di Pulau Peling dan timur Sulawesi. Kecuali kerajaan Matindok – Lowa – Bola, sebab penaklukkan kerajaan ini dilakukan dengan memperistri salah satu anak Rajanya Ali Asine yakni Nuru Sapa.

      Hapus
    3. Bahkan yang ada hal yang ditutupi sampai saat ini…!!!
      Yakni Kerajaan Banggai setelah dibawahi adi Cokro merupakan sebuah KERAJAAN BONEKA TERNATE….!!! Apa sebabnya ??
      Sebabnya dalam pembiayaan perang, Kesultanan Ternate menjadi peminjam tetap kepada pihak Belanda ( VOC ), sehingga kerajaan ini dijadikan sebagai jaminan atau borok kepada pihak VOC.
      Tidak percaya ???
      Coba buka ulang buku Francois Valentijn ( 1880 ) hal 456…!!!!
      Terus terang saya sangat antusias kalau ada yang mau meluruskan sejarah Kerajaan Banggai yang sesungguhnya. Akan tetapi harus fair dong…!!!! Jangan ada yang ditutup – tutupi…!!!!

      Hapus
    4. Belum lagi ketika Sultan Ternate datang ke bumi Sulawesi Timur beberapa waktu lalu..
      Kok bisa orang seperti itu digotong bak Jendral Sudirman,,,
      Disanjung bak seorang Nabi / Rasul...
      Ciieeeehhhhh....
      Sungguh redah sekali mereka...!!!
      Berbuat seperti itu pada sang penjajah...!!!
      Otaknya taruh dimana..??
      Tidak ada perasaannya pada leluhur mereka yang telah berkorban mempertahankan tanah tumpah darah kita..!!!

      Hapus
    5. bukan kita menolak secara keseluruhan sejarah banggai yg ditulis oleh orang luar seperti bangsa eropa, sudah jelas kita ketahi bahwa mereka itu adalah penjajah yg ingin menguasai kita jdi jika mereka menuliskan sejarah kita, itu harus kita sesuaikan dengan sejarah tutur yg ada walaupun memang sejarah tutur itu sendiri tidak bisa bisa lansung kita terima tanpa analisis, untuk sejarah yg ditulis M. yamin harus kita analisis lg darimana dia dapatkan referensinya tidak kita lansung terima secara mutlak dan mengakui kebenaran seluruh isinya karna M.yamin sendiri bukan orang banggai. di sini kami komunitas mahasiswa banggai jogja sementara menganalisis sejarah tutur yg ada dengan mengaitkan situs yg ada..
      dan saya sampaikan lagi bahwasanya adi cokro jika diserap kedalam bahasa banggai seharusnya bukan soko tapi soklo karna dalam bahasa banggai sangat kurang terdapat huruf R..

      Hapus
    6. mungkin kawan harus memperbaiki lg tentang meninggalnya pati unus 1525 dan pengutusan dia terhadap adi saka ke ternate 1530, sebab bagaimana orang suda meninggal masih dapat mengutus orang lain yg masi hidup. serta sejarah masa kekuasan pati unus dalam sejarah di jawa berbenturan dengan masa kuasaan trenggana sultan ke 3 demak, dan tolong buka situs ini mengenai M.yamin..

      http://www.andreasharsono.net/2010/05/gadjah-mada-dan-muhammad-yamin.html
      serta mengenai pati unus..
      http://id.wikipedia.org/wiki/Pati_Unus

      saya ingatkan lg untuk sejarah yg ditulis bangsa eropa harap kita jangan menjadikan sebagai kebenaran mutlak, dan cobalah kita menghargai sejarah tutur dari leluhur kita dan mari kita coba analisis sejarah tutur tersebut jgn sampai ada fiksi bukan fakta..

      Hapus
    7. coba kawan analisis juga mengenai pati unus (1525) yg mengutus adi cokro untuk membantu sultan babulah yg sedangkan sultan babulah sendiri menjadi sultan disekitar 1570-1583 M..

      Hapus
    8. Hhmmmmmmm...
      bener juga mas brow..
      kaya orang" barat seperti eropa mesti kita pertanyakan,,,
      apalagi yang cuma lulusan barat,, karena pasti mereka juga pasti sudah kena doktrin barat...
      contohnya si andreas harsono itu...

      Hapus
    9. hehe... itulah saya katakan bahwa kita jangan juga harus menolak secara keseluruhan sejarah yg mereka buat, namun juga jangan kita menerima secara mutlak sejarah yg mereka buat dan digunakan sebagai sandaran kebenaran tanpa proses analisis..

      Hapus
  6. memang benar yg anda katakan bahwa dulunya di banggai terdapat empat basalo yg berseteru dan disatukan ole adi saka, tpi anda harus tau juga bahwa di daratan peling terdapat juga basalo2 yg pada waktu itu belum bersatu dgn kerajaan banggai....
    ini saya menceritakan sedikit sejara tutur mengenai adi saka di wilayah bulagi, dan kita bandingkan dgn adi saka yg disusun oleh penulis eropa..
    .. dahulunya adi saka datang pertama menginjakan kakinya di daerah buko, dan menikah dgn putri seorang basalo di buko dan dikaruniai seorang putra namanya blm diketahui, setelah itu ada seorang basalo dari banggai mengutus seoseorang untuk meminta adi saka mebunuh seekor burung elang raksa atau bhs banggainya alai mbelong, beliaupun menerima permintaan bantuan tersebut setelah burung itu ia bunuh maka dipun menikah dengan putri basalo tersebut yg kemudian melahirkan 2 org putra yg kaka bernama puadi dan adiknya belum diketahui namanya, setelah tinggal beberapa waktu dibanggai diapun berangkat ke jawa dan mendirikan sebuah kerajaan di jawa sehingga pada saat itu kerajaan banggai kekosongan sehingga dimintalah anaknya untuk memimpin banggai namun mereka katakan mereka mau memimpin banggai tpi harus sepengetahuan bapanya dan akhirnya mereka berangkat ke jawa dengn membawa 40 pengawal setelah disetujui adiknya pulang terlebih dulu dgn membawa 9 bendera setelah sampai di banggai diapun lansung diangkat jdi raja kemudian menyusul kakanya puadi dgn membawa 12 bendera tpi sesampai dibanggai dia mendengar bahwa adiknya telah memimpin banggai maka diapun berlayar menuju bulagi dan menikah dengan anak dari basalo salaup bulagi yg kemudian dia meninggal di thn 67 H.untuk adi saka memang tidak begitu jelas asal usulnya sebab adi saka sendiri itu hanya gelar saya skarang sedang membagi informasi dengan seorang tokoh budayawan jogja yaitu herman sinung jautama mengenai adi saka sebab kalau dijawa sendiri ada seorang sosok sejara yg pembuat huruf jawa yaitu aji saka, dan aji saka sendiri dalam sejarah jawa mereka blum dapat pastikan asal usulnya dan hadirnya tahun berapa beliau di jawa belum mereka dapat pastikan sebab ada yg mengatakan aji saka datang di jawa skitar abad ke-3, yg lain mengatakan ke-4, ke-5, ke-6, ke-7 sampai ke-10.. beberapa waktu lalu saya berbagi info dengannya diapun mengatakan kemungkinan adi saka di banggai dan aji saka di jawa ialah satu sosok..
    maaf tidak terlalu rinci tpi muda2han bisa bermanfaat.. trimakasi kritikannya, sebab setiap kritikan harus diterima untuk kita bisa lebih mendekati kebenaran... OK..

    BalasHapus
  7. jdi kerajaan banggai sudah bersatu sejak abad ke VI bukan abad XVI itu dari sejarah tutur yg ada..

    BalasHapus
  8. kerajan banggai terdiri 2 masa yaitu masa kerajaan banggai lama dan kerajaan banggai baru, kerajaan banggai lama runtuh di abad ke XVI atas ekspansi ternate yg ditunggangi belanda, kami memang ingin meluruskan sejarah karna menurut sejarah tutur yg diturunkan secara turun temurun adi saka bukan di abad XVI tpi di sekitar abad ke VI, untuk kerajaan banggai baru sudah benar kalau dimulaia dari prins mandapar namun kami akan membantah kalau disana dikaitkan pula dengan kehadiran adi saka di abad XVI..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas brow atas penjelasannya..
      Masalahnya baik tulisan karya "orang eropa" atau Batumundo'an Banggai mengatakan bahwa maulana prins mandapar tersebut adalah anak dari Adi Cokro...
      Kata "Adi" itu sendiri adalah sebuah gelar yang diberikan kepada pemimpin Banggai...
      Makanya ada Adi Kalut Pokalut, Adi Mopute, Adi Lambai Polambai dan yang terakhir adalah (katanya) Raden Cokro yang kemudian diberi gelar Adi,, maka namanya kemudian menjadi Adi Cokro... ((itu kata mereka (Batumundo'an Banggai) lho, bukan saya pribadi))...
      Jadi wajar kalau mereka mengaitkan dengan Adi Saka (Adi Cokro menurut mereka)

      Hapus
    2. Nah nanti Maulana Prins Mandapar barulah menggunakan gelar Raja..

      Hapus
    3. ini yg sepertinya kita berikan masukan ke batomundoan banggai bahwasanya jika sejarah banggai kita tuliskan maka tidak bisa hanya dari lingkungan ibu kota keraton banggai saja, karna jika bebicara sejarah tutur maka kita harus mengundang seluruh tokoh2 adat yg ada diseluruh wilayah kraton banggai yaitu babasal, untuk mendengar penuturan mereka masing2 kemudian kita mengambil kesepakatan. dari kesepakatan itulah kita menuliskan sejarah kita dengan mencari situs kalau itu ada, dan jika situs itu belum ada maka kita harus membuka diri untuk kedepannya sejarah itu masih dapat dikritiki jika ada situs yg ditemukan...

      Hapus
    4. menarik mengenai adi mapute, karna saya sendiri perna mendengar mengenai adi mapute di buko selatan, ceritanya seperti ini::

      tutur ini mengenai keruntuhan kerajaan banggai lama, disekitar abad ke XV raja kita berangkat ke tanah bugis untuk melamar putri bugis. sesampainya di bugis, lamaran pun dilansungkan namun sayang lamaran itu di tolak. setelah itu raja kembali ke tmpt peristrahatan lalu dia menuliskan surat ke putri bugis tersebut, dan setelah besoknya tuan putri lansung menerima lamarannya. namun sayang karna waktu keberangkatan ke bugis banyak para talenga yg mengawalnya sehingga melihat kekosongan tomundo, maka ternate dan belanda bersama2 menyerang kerajaan banggai. setelah mendengar berita itu raja sangat terpukul dan kembali kebanggai setelah sampai di banggai para basalo meminta pada raja untuk melakukan perlawanan namun raja telah menyatakan takluk sebab beliau telah banyak melihat korban di antara dua pihak. setelah itu para basalo ditawan namun ada salah satu basalo yg memang tidak ingin mengalah dan diapun menghilang dari dalam kapal setelah datang angin topan.

      dan dari sejarah tutur yg saya dengarkan Adi Mopute itu ialah putra hasil pernikahan raja banggai dengan putri bugis, dan mungkin kata mopute dalam bahasa bugis ialah pengikat atau pemersatu. untuk raja yg menikah dgn putri bugis tersebut namanya belum diketahui dan dia sendiri tidak diketahui lg kemana.??

      namun sejarah tutur ini blum dapat dipastikan kebenaranya harus di buktikan apakah memang perna ada pernikahan antara putri bugis dan raja banggai..

      Hapus
    5. selain itu kita sendiri sangat ketahui bahwasanya kerajaan kita ditaklukan oleh ekspansi ternate... maka seharusnya ada raja terakhir yg memimpin pada saat penaklukan tersebut. serta kita juga harus kritis apakah dibenarkan jika penyebaran agama islam dilakukan dengan mendahului peperangan. sebaba dari sejarah mengenai adai cokro sepertinya dia menyebarkan agama islam dengan melakukan peperangan bukan melakukan perang karna membela diri, dan buat saya itu bertentangan dengan islam sebagai agama cinta serta bertentangan pula dengan ajaran tasauf yg telah lama diajarkan di banggai khususnya di bulagi yg telah dimulai sejak sekitar pertengaha abad ke VI..

      Hapus
    6. dan jika adi lambai merupakan raja terakhir banggai apakah dengan begitu mudahnya dia memberikan kepemimpinanaya kepada Adi Cokro.??

      untuk itu saya mengajak kawan2 marilah kita menuliskan sejara kita secara objektif dengan tidak mengedepankan ego agar kita bisa menyamakan pendapat dgn tidak merasa bahwa sejarah yg kita ketahuilah yg paling benar dan InsaAllah kita dapat menuliskan sejarah kita yg mungkin bisa mendekati kebenaran. Amin....
      sebab apa yg saya tuturkan di atas itupun harus diuji kebenarannya..

      Hapus
    7. Wissss....
      Mantap mas brow...
      Ceritera mengenai Adi Mopute itu baru saya dapatkan dari anda...
      Makasih ne sdh menjelaskan..
      Nah kalau saya dapat menarik beberapa kesimpulan dari hasil chat ini, bahwasannya :
      1. Yang anda maksud Adi Soko dan Adi Cokro itu merupakan orang yang berbeda,, kira - kira demikian...
      2. Bahwasannya memang benar ketika itu Ternate di bawah pimpinan Adi Cokro (maaf bukan adi soko yg anda maksud) telah melakukan expansi militer ke Banggai karena mungkin kekosongan kekuasaan disana,, berikut kerajaan-kerajaan sekitar hingga kerajaan yang ada di Timur Pulau Sulawesi seperti Tompotika yang pada saat itu dilanda perang saudara
      3. Alih-alih menyebarkan Islam ternyata Adi Cokro membenarkan peperangan,, apakah dia dapat dikatakan sebagai pahlawan..?? setidaknya demikian pendapat saat ini termasuk Batumundo'an Banggai sendiri
      4. Saya pun tidak setuju apabila dikatakan Adi Cokro sebagai penyebar Islam apalagi yang pertama membawa Islam di Bumi Banggai, P. Peleng dan wilayah Timur P. Sulawesi,, sebab menurut saya Islam sudah ada sebelum Ternate menaklukkan daerah ini,, salah satu alasannya seperti yang anda kemukakan di atas,, dan saya tambahkan lagi bahwa ketika itu Adi Cokro menikahi Putri Raja Matindok-Lowa-Bola Ali Asine yakni Nuru Sapa,, Nah nama atau inisial "ALI" itu bukankah identik dengan nama2 dalam Islam..?? berarti sudah ada Islam sebelum ia masuk ke daerah ini

      Hapus
    8. Nambah dikit lagi Mas Brow...
      Berarti juga kita sepakat bahwasannya sebelum daerah kita diporak-porandakan Ternate,, ternyata kita sudah memiliki Kerajaan sendiri yang Otonom...
      Dan apakah anda setuju juga bahwasannya Adi Cokro merupakan pemersatu BANGGAI (meliputi kerajaan Banggai dan sekitarnya berikut kerajaan2 di wilayah timur Sulawesi)..??? mengingat cara-cara yang mereka lakukan terhadap kerajaan-kerajaan ini..
      Setidaknya pendapat itu yang ditanamkan mereka (termasuk Batumundo'an Banggai lho) kepada generasi-generasi kita...
      Apa perlu apabila Sultan Ternate datang ke daerah kita,, digotong dan diarak bagai seorang pahlawan perang..??
      Sebab tiap sultan Ternate datang selalu hal itu yang mereka lakukan,,,
      Dan apabila hal ini coba kami utarakan,, kami mendapat banyak tantangan terutama mereka yang NGAKUNYA sebagai turunan Sultan Ternate di daerah ini..
      Mohon masukannya lagi mas brow...

      Hapus
    9. sepertinya memang kita sudah mulai sependapat, namun yg sangat membedakan kita mengenai adi saka. dari saya sendiri memang sudah mengetuhi sejarh mengenai adi cokro yg hadir di abad XVI, namun di sisi lain dari sejarah tutur yg saya dapatkan tidak membenarkan adanya adi cokro yg hadir di abad ke XVI yg kemudian berubah namanya menjadi adi saka melainkan dia si adi saka hadirnya di sekitar abad V. karena sejarah yg mereka tuturkan, ekspansi yg ternate lakukan banyak dipimpin oleh suku tobelo namun mereka tidak pernah mengatakan adanya nama adi cokro sebagai pemimpin ekspansi.. sehingga dari sini saya blm bisa mengambil kesimpulan kalu adi saka dan adi cokro/adi saka itu orang yg berbeda,..
      sepertinya kita harus mencari bukti buat pembenaran apakah mereka memang orang berbeda atau salah satunya adalah rekayasa.
      sebab, prins mandapar yg dikatakan sebagai putra adi saka, dalam sejarah tutur mengatakan bahwa beliau ialah memang seorang bangsawan ternate namun tidak dikatakan sebagai putra adi saka yg kemudian menjadi raja kedua banggai, melainkan waktu itu prins mandapar memang sengaja ditugaskan dari ternate untuk memimpin banggai karna banggai sendiri pada waktu itu telah ditaklukan. dan jika tahun kepemimpinan prins mandapar diambil dari referensi kerajaan banggai melayu online akan sejaman dengan kepemimpinan sultan babulah..
      dari sejara tutur inilah sehingga saya katakan bahwa adi saka di abad XVI itu hanya rekayasa belanda dan ternate untuk mengkaburkan sejarah banggai..

      Hapus
    10. untuk sejarah adi cokro yg menikah dengan nuru sapa, saya pun sudah pernah mendengar dari sekitar desa bobolon banggai, beliau mempunyai putra pemain gasing yg mana inipun mirip dgn adi saka abad VI yg putranya pun ialah pemain gasing, serta kalau dari desa bobolon sendiri mengatakan bahwa beliau nuru sapa berada di negri "kayangan", dan jika itu sama dengan yg anda maksud maka analisis saya itu bukan di sekitar abad ke XVI melainkan di skitar abad V-VI.

      Hapus
    11. untuk adi saka sebagai penyatu banggai saya spakat sesuai sejarah tutur namun itu di abad ke VI tpi jika adi saka dikatakan sebagai penyatu banggai di abad XVI saya tida spakat karna saya belum pernah mendengarnya dalam sejarah tutur, karna saya lebih cenderung ke sejarah tutur dibanding sejarah yg disusun penjajah..

      Hapus
  9. Nah Kalau saya berpendapat seperti ini bagaimana...
    Untuk/agar/supaya Maulana Prins Mandapar yang nota bene bukan orang Banggai tersebut dapat diterima sebagai raja oleh rakyat Banggai,,, maka oleh Ternate dibuatlah /dikaranglah sebuah ceritera seperti yang tersebut di atas,,

    BalasHapus
  10. @Fatharany Berkah Abdul Barry
    selaku Pemerhati Sejarah Banggai bijak kiranya membaca dan menganalisis ulasan kami di atas !!

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan kawan berpendapat seperti itu,, tpi saya harap jangan dulu kita pastikan kebenarannya karna nantinya kitapun harus buktikan lg kebenarannya. apakah sejarah tutur mengenai prins mandapar yg direkayasa ternate untuk dapat diterima dibanggai itu benar adanya atau tidak..

      Hapus
  12. Dalam pemahaman kami orang Banggai di Banggai ADI SOKO bukan dari Jawa dan bukan pula dari Ternate melainkan Orang Banggai Asli yang bernama MANSANDA orangnya sakti mandraguna yang kemudian setelah diangkat menjadi Raja Babolau menggantikan ADI LAMBAL maka di beri gelar ADI SOKO.
    Gelar ADI hanya ada pada Kerajaan Babolau, dalam kurun waktu kekuasaannya dia berupaya mempersatukan Raja - Raja kecil di Pulau Banggai dan sekitarnya maka setelah bersatu, Kerajaan Babolau tersebut dinamakan Kerajaan Bolukan yang berpusat di Banggai Lalongo, disaat itu untuk memonumenkan penyatuan raja - raja kecil tersebut maka didirikanlah tunggul sebagai lambang persatuan dengan warna bendera merah putih bersusun 13 yang sekarang ini diperingati setiap 6 Tahun 6 Bulan 6 Hari Tunggul tersebut berdiri di Banggai Lalongo.
    Kenapa setiap kurun waktu tersebut diatas di peringati..? karena upaya penyatuan raja-raja kecil tersebut memakan waktu selama 6 Tahun 6 Bulan 6 Hari baru bisa bersatu. Penyebutan nama Kerajaan Banggai bermula pada abad ke XIII, sebelumnya di kenal dengan sebutan KERAJAAN BOLUKAN olehnya itu argumentasinya bahwa ADI SOKO bukan asal dari tanah jawa dan MANDAPAR bukan anak dari ADI SOKO.
    inisial MANDAPAR tidak di temukan dalam catatan sejarah Kesultanan Ternate maupun Jailolo tapi keberadaan MANDAPAR menjadi Raja Banggai di tempatkan oleh Sultan BAABULLAH yang oleh Kesultanan Ternate menamakan MUDAFFAR SYAH.

    BalasHapus
  13. @ HAMSEN B. KUAT


    Asumsinya bahwa penyatuan kerajaan2 kecil tersebut dilakukan oleh orang Banggai sendiri bukan atas prakarsa Kesultanan Ternate..
    Hal yang sama diungkapkan oleh Saudara Jalil Mangalia..
    Mohon penjelasannya mengenai Pelantikan Raja2 yang dilakukan oleh Ternate..!!

    BalasHapus
  14. Apa landasan Bahwa Banggai adalah sebuah kerajaan?

    BalasHapus
  15. ini saya tambah sedikit
    http://cooljalil.blogspot.com/2014_04_01_archive.html

    BalasHapus
  16. mantap diskusinya tamba pengetahuan saya tentang sejarah banggai...lanjutkan!!!....(salam saya pau kambani )

    BalasHapus
  17. Bagaimana penuturan orang tua kita tentang kehidupan kayangan,, yang konon diceritakan,, banyak orang2 banggai bahkan raja banggai yang mempunyai kekuatan ilmu yang tinggi sehingga mereka hidup dialam,,,lain,,,apakah ada kaitannya dengan sejarah banggai,,,?

    BalasHapus
  18. Sejarah penyiar agama islam pertama kali di banggai adadalah KH SYE ABDUL RASYID atau dengan sebutan gelar MUHAMMAD ADI SOKO, yg biasa masyarakat banggai ketahui sampai saat ini,
    dialah murid dari 9 wali allah.dialah yg menyiarkan agama islam pertama d banggai, konon cerita MUHAMMAD ADI SOKO meninggalnya di sumatra dan kuburannya masih ada di sumatra. Untuk peninggalan sejarah yg berbentuk fisik itu sdh habis di makan tanah karna kurangnya perhatian dari masyrakat pada saat itu, Muhammad adi soko hanya meninggalkan ajaran agama dan ahlaknya selama d banggai . Yang pada saat itu sebelum penyiar agama masuk di banggai bahwa banggai sdh punya peradaban , sekitar abad ke IV dan V.imam sahban dan lipuadino adalah murid dari adi soko yang dia sdh anggap sebagai anak.

    BalasHapus
  19. Sejarah penyiar agama islam pertama kali di banggai adadalah KH SYE ABDUL RASYID atau dengan sebutan gelar MUHAMMAD ADI SOKO, yg biasa masyarakat banggai ketahui sampai saat ini,
    dialah murid dari 9 wali allah.dialah yg menyiarkan agama islam pertama d banggai, konon cerita MUHAMMAD ADI SOKO meninggalnya di sumatra dan kuburannya masih ada di sumatra. Untuk peninggalan sejarah yg berbentuk fisik itu sdh habis di makan tanah karna kurangnya perhatian dari masyrakat pada saat itu, Muhammad adi soko hanya meninggalkan ajaran agama dan ahlaknya selama d banggai . Yang pada saat itu sebelum penyiar agama masuk di banggai bahwa banggai sdh punya peradaban , sekitar abad ke IV dan V.imam sahban dan lipuadino adalah murid dari adi soko yang dia sdh anggap sebagai anak.

    BalasHapus
  20. Assalamualaikum... Sebelumnya saya ucapkan terima kasih buat semuanya yang mana kecintaan terhadap budaya serta sejarah banggai masih tertanam. Akan tetapi semuanya itu bisa ada warna manakala semua asumsi ataupun sumber informasi sejarah banggai bisa kita jadikan bahan baku apabila ada data pendukung dari sisi arkeologi serta antropologi.penggalian serta penelitian sejarah banggai selama ini belum kita lakukan dalam keilmuan arkeologi .pengumpulan fakta sejarah akan menghasilkan formula yang baik buat kita yang mengaku lahir dan memiliki pusaka leluhur ini.sehingga jangan kita terfokus pada satu sumber informasi saja. Saya salasatu pendiri komunitas pemerhati budaya mengajak adik adik untuk mampir ke pulau banggai untuk melihat bukti yg seru yang dibahas diblock ini.komunitas Lipu pau Basal siap mendampingi petualangan seru anda ditano bolukan banggai

    BalasHapus
  21. Cerita ini sdh di campur adukan antara zaman kuno,,,zaman klasik dan zaman moderen,,,, contoh klu di kembalikan ke zaman kuno dan sdh ada bukti kuburan yg di dapatkan di desa lolantang,,, dimasehikan 67 H brati sekitar 600 M... mana bisa 600 M di katakan zaman Klasik dan Zaman moderen? Dan setau sy utk cerita yg ada di banggai laut anak dari adi saka bukan puadi,, puadi adalah murid dari adi saka, yg juga menjadi anak angkat dari adi saka. Tolong di perjls cerita ini!!!

    BalasHapus
  22. Cerita ini sdh di campur adukan antara zaman kuno,,,zaman klasik dan zaman moderen,,,, contoh klu di kembalikan ke zaman kuno dan sdh ada bukti kuburan yg di dapatkan di desa lolantang,,, dimasehikan 67 H brati sekitar 600 M... mana bisa 600 M di katakan zaman Klasik dan Zaman moderen? Dan setau sy utk cerita yg ada di banggai laut anak dari adi saka bukan puadi,, puadi adalah murid dari adi saka, yg juga menjadi anak angkat dari adi saka. Tolong di perjls cerita ini!!!

    BalasHapus
  23. Tabea'daka to utu utus sasaibino' sejarah tutur dari tua adat,,,,yg saya pribadi terkesima mendengarkannya,,,,,ooh lee' lokonku mian BANGGAI hongoo ima imak ihee aijo anu nonganakakon anu sinanggohan tabea'daka' sanggonyo LOINANG,LO'ON,LOBO' aha aijokmo na Tumpu nu BANGGAI yg memiliki Kerajaan bukan dari luar BANGGAI Wassalaaaam,,,,Kinatauan,,,,Inde asi'.

    BalasHapus
  24. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  25. Sands Casino | California's First Vegas Casino
    The Sands Casino is a 온카지노 hotel 1xbet and casino located on the Las Vegas Strip in Paradise, California, US. The Sands casino 샌즈카지노 opened in 1996 and now has a

    BalasHapus